IDENTIFIKASI TEORI SOSIOLOGI AGAMA
1.
Emile Durkheim
Agama dalam
pandangan Emile Durkheim adalah sistem sosial yang memperkuat solidaritas
masyarakat. Solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara
individu dan / atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan
kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional
bersama. Agama memiliki nilai-nilai sebagai
ajarannya. Nilai-nilai inilah yang menjadi perekat masyarakat. Sedangkan Tuhan
hanyalah idealisme dari masyarakat itu sendiri yang menganggapnya sebagai
makhluk yang paling sempurna. Tuhan
adalah personifikasi masyarakat.
Oleh karena itu, agama dalam konteks Durkheim menjadi sangat fungsional, yakni
merekatkan masyarakat melalui nilai-nilai yang harus dijaga. Yang menarik dalam agama adalah bukan pada apa
yang berbeda mengenai karakteristik keyakinan dan ritual dari agama-agama yang
ada, melainkan apa yang sama dalam hal kerjanya, yakni mengenai fungsi-fungsi
yang dijalankan semua agama bagi sistem sosialnya.
2.
Max Weber
Diawali dengan
esai etika protestan dan semangat kapitalisme, Weber menyebutkan agama adalah
salah satu alasan utama perbedaan antara budaya barat dan timur. Ia mengaitkan
efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi, hubungan antara stratifikasi
sosial dan pemikiran agama serta pembedaan karakteristik budaya barat.
Tujuannya untuk menemukan alasan mengapa budaya barat dan timur berkembang
dengan jalur yang berbeda. Weber kemudian menjelaskan temuanya terhadap dampak
pemikiran agama puritan (protestan) memiliki pengaruh besar dalam perkembangan
sistem ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat. Agama menurut Max Weber adalah sistem sosial yang
dapat memperkuat identitas diri masyarakat. Studi Weber
tentang bagaimana kaitan antara doktrin-doktrin agama yang bersifat puritan
dengan fakta-fakta sosial terutama dalam perkembangan industri modern telah
melahirkan corak dan ragam nilai, dimana nilai itu menjadi tolak ukur bagi
perilaku individu itu sendiri. Agama adalah apa yang bisa dilihat dari
orang lain, bukan yang diyakininya. Seperti pemakaian busana yang tampak sebagai
identitas agama yang dianutnya.
3.
Karl Mark
Agama adalah
sistem sosial yang digunakan untuk menetralisir situasi hati yang kurang menguntungkan.
Agama dibutuhkan oleh orang-orang yang kacau. Hal ini sesuai dengan kalimat
Marx bahwasanya “Agama adalah Candu bagi masyarakat”. Menurutnya, karena ajaran agamalah maka
rakyat menerima saja nasib buruk mereka dan tidak tergerak untuk berbuat
sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Marx melihat kaum buruh pada zaman
itu pasrah akan keadaan yang mereka terima. Eksploitasi dari kaum kapitalis
diterima dengan dingin tanpa ada usaha untuk melawan. Akhirnya agamalah yang menjadi tempat
mereka bersandar sebagai penghiburan dengan menjanjikan kebahagiaan di alam sesudah kehidupan. Agama
menjadi tempat pelarian manusia dari kondisi dunia nyata. Kehidupan yang kurang menguntungkan membuat manusia
menderita dan mencari obat penenang dalam kehidupan keagamaan.
Tabel 1. Persamaan dan perbedaan Teori tentang
Agama
|
PERSAMAAN
|
PERBEDAAN
|
||
|
Emile Durkheim
|
Karl Marx
|
Max Weber
|
|
|
agama ada keterkaitannya
dengan kehidupan sosial atau memberikan dampak dan pengaruh baik langsung
maupun tidak terhadap realitas kehidupan manusia
|
Agama menjadi sangat
fungsional sebagai perekat batin masyarakat dalam menjaga nilai dan norma
sosial.
|
Agama berfungsi sebagai
tempat pelarian orang-orang yang kacau dan tertindas oleh penguasa. Di sisi
lain, penguasa menggunakan kata “Agama” untuk melancarkan rencana mereka.
|
Agama menjadi fungsional
dalam memperkuat identitas diri masyarakat. Agama dipahami sebagai suatu hal
yang terlihat, bukan sebagai suatu keyakinan yang sakral.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar