Rabu, 01 April 2015

SOSIOLOGI AGAMA

IDENTIFIKASI TEORI SOSIOLOGI AGAMA

1.      Emile Durkheim
Agama dalam pandangan Emile Durkheim adalah sistem sosial yang memperkuat solidaritas masyarakat. Solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dan / atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Agama memiliki nilai-nilai sebagai ajarannya. Nilai-nilai inilah yang menjadi perekat masyarakat. Sedangkan Tuhan hanyalah idealisme dari masyarakat itu sendiri yang menganggapnya sebagai makhluk yang paling sempurna. Tuhan adalah personifikasi masyarakat. Oleh karena itu, agama dalam konteks Durkheim menjadi sangat fungsional, yakni merekatkan masyarakat melalui nilai-nilai yang harus dijaga. Yang menarik dalam agama adalah bukan pada apa yang berbeda mengenai karakteristik keyakinan dan ritual dari agama-agama yang ada, melainkan apa yang sama dalam hal kerjanya, yakni mengenai fungsi-fungsi yang dijalankan semua agama bagi sistem sosialnya.

2.      Max Weber
Diawali dengan esai etika protestan dan semangat kapitalisme, Weber menyebutkan agama adalah salah satu alasan utama perbedaan antara budaya barat dan timur. Ia mengaitkan efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi, hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama serta pembedaan karakteristik budaya barat. Tujuannya untuk menemukan alasan mengapa budaya barat dan timur berkembang dengan jalur yang berbeda. Weber kemudian menjelaskan temuanya terhadap dampak pemikiran agama puritan (protestan) memiliki pengaruh besar dalam perkembangan sistem ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat. Agama menurut Max Weber adalah sistem sosial yang dapat memperkuat identitas diri masyarakat. Studi Weber tentang bagaimana kaitan antara doktrin-doktrin agama yang bersifat puritan dengan fakta-fakta sosial terutama dalam perkembangan industri modern telah melahirkan corak dan ragam nilai, dimana nilai itu menjadi tolak ukur bagi perilaku individu itu sendiri. Agama adalah apa yang bisa dilihat dari orang lain, bukan yang diyakininya. Seperti pemakaian busana yang tampak sebagai identitas agama yang dianutnya.

3.      Karl Mark
Agama adalah sistem sosial yang digunakan untuk menetralisir situasi hati yang kurang menguntungkan. Agama dibutuhkan oleh orang-orang yang kacau. Hal ini sesuai dengan kalimat Marx bahwasanya “Agama adalah Candu bagi masyarakat”.  Menurutnya, karena ajaran agamalah maka rakyat menerima saja nasib buruk mereka dan tidak tergerak untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Marx melihat kaum buruh pada zaman itu pasrah akan keadaan yang mereka terima. Eksploitasi dari kaum kapitalis diterima dengan dingin tanpa ada usaha untuk melawan. Akhirnya agamalah yang menjadi tempat mereka bersandar sebagai penghiburan dengan menjanjikan kebahagiaan di alam sesudah kehidupan. Agama menjadi tempat pelarian manusia dari kondisi dunia nyata. Kehidupan yang kurang menguntungkan membuat manusia menderita dan mencari obat penenang dalam kehidupan keagamaan.


Tabel 1. Persamaan dan perbedaan Teori tentang Agama

PERSAMAAN
PERBEDAAN
Emile Durkheim
Karl Marx
Max Weber
agama ada keterkaitannya dengan kehidupan sosial atau memberikan dampak dan pengaruh baik langsung maupun tidak terhadap realitas kehidupan manusia
Agama menjadi sangat fungsional sebagai perekat batin masyarakat dalam menjaga nilai dan norma sosial.
Agama berfungsi sebagai tempat pelarian orang-orang yang kacau dan tertindas oleh penguasa. Di sisi lain, penguasa menggunakan kata “Agama” untuk melancarkan rencana mereka.
Agama menjadi fungsional dalam memperkuat identitas diri masyarakat. Agama dipahami sebagai suatu hal yang terlihat, bukan sebagai suatu keyakinan yang sakral.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar