Agama yang kita anut saat
ini sadar atau tidak sebenarnya adalah agama warisan dari orang tua. Atau dengan
kata lain, kita memeluk agama tersebut adalah karena orang tua yang lebih
dahulu memeluknya. Jadi, bagaimana seharusnya kita beragama?
Pertanyaan di atas layak diketengahkan
dalam rangka introspeksi diri atas keagamaan kita sehingga kita benar-benar
beragama sebagaimana mestinya. Karena betapa
banyak orang beragama, namun keberagaman mereka sekedar warisan dari orang tua
atau lingkungan sekitar mereka. Dalam hal ini kita sering melihat sering
melihat simbol-simbol keagamaan seperti patung, gambar, aksesoris dan lainnya
ada dalam ritual dan tradisi keagamaan tertentu. Karena inti emosi keagamaan
dipandang tidak dapat diekspresikan, maka semua upacara untuk itu semata-mata
merupakan perkiraan-perkiraan dan karena itu bersifat simbolik. Meskipun demikian,
sebagai salah satu cara untuk menghidupkan benda-benda dan makhluk-makhluk
sakral yang gaib dalam pikiran dan jiwa. Para pemeluk agama yang bersangkutan,
simbolisme, meskipun kurang tepat dibandingkan dengan cara-cara ekspresi yang
lebih ilmiah, tetap mempunyai potensi istimewa. Karena lambang-lambang itu
mampu membangkitkan perasaan dan keterikatan lebih daripada sekedar formulasi
verbal dari benda-benda yang mereka percayai sebagai lambang tersebut. Begitulah
tujuan dari adanya simbol agama dalam kehidupan umat beragama.
Dari penjelasan di atas yang
menjadi acuan kita adalah bagaimana kita beragama agar ajarannya benar-benar
terasa mewarnai seluruh aspek kehidupan kita? Dalam Islam kita mengenal
cara-cara beragama dalam tiga ajaran yakni akidah (keyakinan), syari’ah (hukum
atau fiqh) dan akhlak. Berikut uraiannya:
1) Akidah
Akidah adalah
perkara-perkara yang mengikat akal, pikiran dan jiwa seseorang. Misal: ketika
seseorang meyakini adanya setu Dzat yang senantiasa mengawasi gerak-gerik kita,
maka keyakinan tersebut mengikat kita sehingga kita tidak leluasa berbuat
sesuatu yang akan menyebabkan-Nya murka.
2) Syari’at
Syari’at
menurut arti bahasa adalah tempat mengalirnya air. Lalu diartikan lebih luas,
yaitu untuk segala jalan yang mengantarkan manusia kepada maksudnya. Dengan demikian,
syari’at islamiyah berarti ajaran yang mengantarkan umat manusia kepada tujuan
Islami. Misal: setelah seseorang meyakini keberadaan Allah sebagai Pencipta dan
Pemberi kehidupan sesuai dalil-dalil akal, maka konsekuensinya dia akan merasa
berkewajiban untuk menaati dan menyembah-Nya.
3) Akhlak
Para ulama
dalam mengartikan akhlak umumnya mengatakan bahwa akhlak adalah ilmu yang
menjelaskan tentang mana yang baik dan buruk serta apa ayng harus diamalkan. Mempelajari
akhlak sangat diperlukan sebagai proses mencapai tujuan hidup, yaitu
kesempurnaan.
Sebagai jawaban dan
kesimpulan bagaimana seharusnya cara kita beragama adalah berakidah atas dasar
keimanan dan menjalankan syari’at dengan baik atas dasar al-Qur’an dan Hadits
serta berakhlak dengan baik.