Selasa, 28 April 2015

CARA MANUSIA BERAGAMA

    Agama yang kita anut saat ini sadar atau tidak sebenarnya adalah agama warisan dari orang tua. Atau dengan kata lain, kita memeluk agama tersebut adalah karena orang tua yang lebih dahulu memeluknya. Jadi, bagaimana seharusnya kita beragama?
    Pertanyaan di atas layak diketengahkan dalam rangka introspeksi diri atas keagamaan kita sehingga kita benar-benar beragama sebagaimana mestinya.  Karena betapa banyak orang beragama, namun keberagaman mereka sekedar warisan dari orang tua atau lingkungan sekitar mereka. Dalam hal ini kita sering melihat sering melihat simbol-simbol keagamaan seperti patung, gambar, aksesoris dan lainnya ada dalam ritual dan tradisi keagamaan tertentu. Karena inti emosi keagamaan dipandang tidak dapat diekspresikan, maka semua upacara untuk itu semata-mata merupakan perkiraan-perkiraan dan karena itu bersifat simbolik. Meskipun demikian, sebagai salah satu cara untuk menghidupkan benda-benda dan makhluk-makhluk sakral yang gaib dalam pikiran dan jiwa. Para pemeluk agama yang bersangkutan, simbolisme, meskipun kurang tepat dibandingkan dengan cara-cara ekspresi yang lebih ilmiah, tetap mempunyai potensi istimewa. Karena lambang-lambang itu mampu membangkitkan perasaan dan keterikatan lebih daripada sekedar formulasi verbal dari benda-benda yang mereka percayai sebagai lambang tersebut. Begitulah tujuan dari adanya simbol agama dalam kehidupan umat beragama.
   Dari penjelasan di atas yang menjadi acuan kita adalah bagaimana kita beragama agar ajarannya benar-benar terasa mewarnai seluruh aspek kehidupan kita? Dalam Islam kita mengenal cara-cara beragama dalam tiga ajaran yakni akidah (keyakinan), syari’ah (hukum atau fiqh) dan akhlak. Berikut uraiannya:

1)    Akidah
Akidah adalah perkara-perkara yang mengikat akal, pikiran dan jiwa seseorang. Misal: ketika seseorang meyakini adanya setu Dzat yang senantiasa mengawasi gerak-gerik kita, maka keyakinan tersebut mengikat kita sehingga kita tidak leluasa berbuat sesuatu yang akan menyebabkan-Nya murka.
2)   Syari’at
Syari’at menurut arti bahasa adalah tempat mengalirnya air. Lalu diartikan lebih luas, yaitu untuk segala jalan yang mengantarkan manusia kepada maksudnya. Dengan demikian, syari’at islamiyah berarti ajaran yang mengantarkan umat manusia kepada tujuan Islami. Misal: setelah seseorang meyakini keberadaan Allah sebagai Pencipta dan Pemberi kehidupan sesuai dalil-dalil akal, maka konsekuensinya dia akan merasa berkewajiban untuk menaati dan menyembah-Nya.
3)   Akhlak
Para ulama dalam mengartikan akhlak umumnya mengatakan bahwa akhlak adalah ilmu yang menjelaskan tentang mana yang baik dan buruk serta apa ayng harus diamalkan. Mempelajari akhlak sangat diperlukan sebagai proses mencapai tujuan hidup, yaitu kesempurnaan.


   Sebagai jawaban dan kesimpulan bagaimana seharusnya cara kita beragama adalah berakidah atas dasar keimanan dan menjalankan syari’at dengan baik atas dasar al-Qur’an dan Hadits serta berakhlak dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar